ADS

loading...

Sunday, September 23, 2018

PEATLAND MANAGEMENT AND NATIONALLY DETERMINED CONTRIBUTION (NDC)



Peatland is a storage of huge amount of carbon. It is estimated that peat can contain about 6 tonnes per hectare of 1 cm depth. Overall, Indonesian peatlands stores about 46 Giga tons, or about 8-14% of the carbon stored in the world peatlands. It is this carbon content that has become source of problems due to its emission when burnt, and at the same time also become a potential solution if well managed, in the context of climate change mitigation and adaptation. In our First National Determined Contribution submitted to the UNFCCC, 17% or over half of the 29% of the emission reduction target, comes from land based sector, which are mainly forest and peatlands.

Tuesday, September 18, 2018

EARTH’S CLIMATE HISTORY



Climate is not a static set of weather conditions, constant over eons; rather it varies, sometimes in dramatic ways, over time. The hot climate of the newlyformed Earth gave way to glaciers in a little more than a billion years, an immense time by human reckoning, but not nearly so long by geological standards. Earth’s climate has alternated many times between hot and cold periods of varying magnitudes. Radiation from the Sun, the ocean currents, rainfall, wind, continental drift, the concentration of greenhouse gases in the atmosphere, volcanic activity, radioactivity in the Earth’s core, the eccentricity of Earth’s orbit around the sun, the tilt of Earth’s axis, and photosynthesis all affect climate. Climate has not one, but, rather, myriad causes. Disentangling these causes is not easy, but it is necessary to understanding why climate changes over time. The current climate is warming. The culprit, carbon dioxide, has been increasing in the atmosphere, driving up temperature, and prompting speculation over Earth’s future climate.

Tuesday, September 11, 2018

DAMPAK MERKURI TERHADAP MANUSIA DAN LINGKUNGAN



Sebagian besar merkuri yang terdapat di alam ini dihasilkan oleh sisa industri dalam jumlah ± 10.000 ton setiap tahunnya. Penggunaan merkuri sangat luas di mana ± 3.000 jenis kegunaan dalam industri pengolahan bahan-bahan kimia, proses pembuatan obat-obatan yang digunakan oleh manusia serta sebagai bahan dasar pembuatan insektisida untuk pertanian (Christian et al dalam Alfian, 2006).


Gambar 1. Diagram aliran merkuri di biosfer

Tuesday, September 4, 2018

ANALISIS DAMPAK METANA BAGI KEHIDUPAN



Metana merupakan gas yang terbentuk oleh adanya ikatan kovalen antara empat atom H dengan satu atom C. Metana merupakan suatu alkana. Alkana secara umum mempunyai sifat sukar bereaksi (memiliki afinitas kecil) sehingga biasa disebut sebagai parafin. Sifat lain dari alkana adalah mudah mengalami reaksi pembakaran sempurna dengan oksigen menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) dengan reaksi:
CH4 (g) + O2 (g) à  CO2 (g) + H2O (g)
Metana merupakan gas yang tidak berwarna, sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tetapi metana dapat diidentifikasi melalui indra penciuman karena baunya yang khas. Sebenarnya gas metana berada di sekitar kita. Beberapa di antaranya akan saya sebutkan di sini.

Monday, August 27, 2018

ZAT-ZAT PENCEMAR UDARA




Udara di alam ini tidak pernah ditemukan dalam keadaan bersih, hal ini terjadi karena kegiatan alam (terjadi secara alami), maupun karena ulah atau kegiatan/aktivitas manusia misalnya gas-gas CO, gas SO2 dan H2S yang dihasilkan melalui kegiatan gunung berapi, terjadinya pelapukan tumbuh-tumbuhan dan kebakaran hutan, yang terus-menerus masuk ke dalam atmosfer (udara). Selain gas-gas tersebut ada pula partikulat-partikulat padat dan cair yang dihasilkan oleh ledakan gunung berapi atau gangguan lain yang dibawa hembusan angin masuk ke dalam atmosfer. Di samping gas-gas dan partikulat-partikulat padat dan cair yang dihasilkan secara alami, masih diperoleh juga gas-gas dan partikulat-partikulat lain yang diperoleh dari hasil kegiatan manusia sebagai hasil proses kimiawi ataupun proses biologis.

Tuesday, August 21, 2018

EPIDEMI GLOBAL: FLU BURUNG



Flu burung merupakan epidemi global yang terkait dengan pola makan daging. Dengan keadaan peternakan modern zaman sekarang yang sangat kacau dan padat, hewan-hewan dipaksa hidup berdesak-desakan tanpa bisa banyak bergerak, kotoran mereka tersebar dimana-mana. Udara yang bercampur dengan amonia yang berasal dari kotoran menghancurkan paru-paru dan merusak sistem kekebalan tubuh mereka. Tidak mengherankan jika tempat-tempat seperti ini merupakan sumber terciptanya penyakit-penyakit mematikan seperti penyakit kuku dan mulut, sapi gila, dan yang paling berbahaya saat ini: flu burung.

Thursday, August 16, 2018

BAHAYA MAKAN IKAN YANG TERKONTAMINASI RACUN



Saat ini, daging ikan mengalami kontaminasi parah berbagai bahan kimia beracun yang dihasilkan manusia. Racun-racun ini telah diidentifkasi sebagai penyebab kanker, kemunduran kecerdasan otak, dan kontaminasi bakteri. Akan tetapi Anda tidak sadar bahwa setiap kali Anda makan ikan, Anda juga memasukkan racun-racun tersebut ke dalam tubuh Anda, yang terdiri dari bakteri, logam-logam berat, dan pengontaminasi lainnya.
Tubuh ikan menyerap racun-racun yang ada pada habitatnya. Semakin tinggi posisi seekor ikan dalam rantai makanan, maka semakin beracun ikan tersebut jadinya. Ikan-ikan yang besar (seperti tuna dan salmon) memakan ikan-ikan kecil dan mereka menyerap juga racun-racun yang ada dalam tubuh mangsanya. Racun yang banyak ditemukan pada ikan adalah PCBs (polychlorinated biphenyls), yang mana menyebabkan kerusakan hati, kelainan jaringan syaraf, dan gangguan janin; dioksin, biasanya terkait dengan kanker; radioaktif, misalnya strontium 90; dan masih banyak logam-logam berbahaya seperti mercury, cadmium, chromium, lead, dan arsenic, yang mana dapat menyebabkan gangguan-gangguan mulai dari kerusakan ginjal sampai dengan gangguan perkembangan mental. Dan kabar buruknya, sekali dikonsumsi racun-racun ini dapat mengendap sampai beberapa dekade.

Monday, August 13, 2018

ASIDIFIKASI SAMUDERA


 Pemanasan global atau biasa disebut global warming merupakan suatu fenomena yang terjadi sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt sehingga menyulut sebuah revolusi besar di Inggris, yaitu Revolusi Industri. Secara singkat pemanasan global dapat diartikan sebagai fenomena meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat gas rumah kaca yang terus terakumulasi di atmosfer.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah karbon dioksida(CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer.

Wednesday, August 1, 2018

DAMPAK INDUSTRI PETERNAKAN BAGI PERUBAHAN IKLIM


Tahukah anda?
Pola makan daging dapat merusak keseimbangan planet kita. Berikut adalah fakta-fakta yang berhubungan dengan kerusakan alam yang ditimbulkan oleh pola makan daging.
Pemborosan Sumber Daya Alam.
Di A.S. (Amerika Serikat), hewan ternak menghabiskan 70% (persen) dari hasil jagung, gandum, dan padi-padian yang ada. Peternakan sapi di seluruh dunia telah menghabiskan makanan yang cukup untuk dikonsumsi oleh 8,7 miliar orang—lebih dari polulasi seluruh umat manusia di Bumi. Kelaparan dunia tidak seharusnya terjadi apabila kita semua bervegetarian.

Tuesday, July 24, 2018

PERANAN BAHAN ORGANIK TERHADAP KESUBURAN KIMIA TANAH



Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain terhadap kapasitas pertukaran kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah, daya sangga tanah dan terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik akan meningkatkan muatan negatif sehingga akan meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK).
Bahan organik memberikan konstribusi yang nyata terhadap KTK tanah. Sekitar 20-70 % kapasitas tukar tanah pada umumnya bersumber pada koloid humus (contoh: Molisol), sehingga terdapat korelasi antara bahan organik dengan KTK tanah (Stevenson, 1982). Kapasitas tukar kation (KTK) menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut termasuk kation hara tanaman. Kapasitas tukar kation penting untuk kesuburan tanah.