ADS

loading...

Monday, August 13, 2018

ASIDIFIKASI SAMUDERA


 Pemanasan global atau biasa disebut global warming merupakan suatu fenomena yang terjadi sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt sehingga menyulut sebuah revolusi besar di Inggris, yaitu Revolusi Industri. Secara singkat pemanasan global dapat diartikan sebagai fenomena meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat gas rumah kaca yang terus terakumulasi di atmosfer.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah karbon dioksida(CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer.

Bagaimana hubungannya antara pemanasan global dengan asidifikasi samudra? saya dapat katakan bahwa keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat, dapat diibaratkan seperti ini Global warning membawa malapetaka di daratan, dan Asidifikasi samudra membawa malapetaka bagi spesies laut”. Global warming juga berkontribusi terhadap
meningkatnya permukaan air laut dan suhu rata-rata air laut. Pada kesempatan kali ini, saya akan mengupas sedikit mengenai asidifikasi samudra, yang terinspirasi dari majalah National Geographic Indonesia Edisi April 2011 tentang “Laut Nan Asam”.
1. PENGERTIAN
Asidifikasi samudra atau Ocean acidification (Asidifikasi samudra) adalah istilah yang diberikan untuk proses turunnya kadar pH air laut yang kini tengah terjadi akibat penyerapan karbon dioksida di atmosfer yang dihasilkan dari kegiatan manusia (seperti penggunaan bahan bakar fosil). Menurut Jacobson (2005), pH di permukaan laut diperkirakan turun dari 8,25 menjadi 8,14 dari tahun 1751 hingga 2004 (Wikipedia).
Air laut bersifat sedikit basa dengan derajat keasaman (pH) sekitar 8,2 di dekat permukaan air laut. sejauh ini sejumlah emisi karbon dioksida yang terlarut dalam lautan menurunkan pH air laut sekitar 0,1 (berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Research Council). Penurunan pH 0,1 berarti air menjadi 30 persen lebih asam dari kondisi sebelumnya. Jika carbon dioksida terakumulasi secara terus-menerus, diperkirakan tingkat keasaman laut akan turun menjadi 7,8 pada tahun 2100. Pada saat itu air akan menjadi 150 persen lebih asam dibandingkan pada tahun 1800. Tidak ada negosiasi dalam perjanjian
pembahasan khusus efek penyerapan karbon di lautan, di mana hasil studi menunjukkan absorbsi karbon adalah kunci yang merusak makhluk berkerangka keras di lautan.
2. PENYEBAB
Pada tahun 1990-an tim ilmuan internasional melakukan proyek penelitian dengan mengumpulkan dan menganalisis lebih dari 77.000 sampel air laut dari berbagai kedalaman dan lokasi di seluruh dunia yang memakan waktu 15 tahun. Dari penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa laut menyerap lebih dari 1/3 karbon dioksida yang ada di udara. Peneliti juga mengestimasikan bahwa sekitar 1 juta ton karbon dioksida diserap oleh laut tiap jamnya. Peter Brewer, ilmuwan senior di Institut Riset Air Monterey Bay (inilah.com) mengungkapkan bahwa "Total jumlah karbon dioksida yang telah dimasukkan ke dalam lautan saat ini adalah sekitar 530 miliar ton"
Ini merupakan berita baik bagi kita yang berada di daratan; artinya lautan membantu mengurangi emisi rumah kaca yang begitu banyak sehingga membantu menurunkan laju pemanasan global. Tapi bagi organisme laut, ini merupakan malapetaka, terutama bagi organisme kunci di lautan seperti karang dan pteropods (hewan bercangkang) karena kedua organisme ini merupakan bagian dari rantai makanan.
3. SUMBER
Karbon dioksida (CO2) merupakan sumber utama yang menyebabkan laut kian asam. Oksida asam yang satu ini dapat berasal dari berbagai aktifitas, diantaranya hasil buangan industry, peternakan, kendaraan, pembukaan lahan; dapat dikatakan bahwa sesuatu yang sifatnya menghasilkan energy sepertinya menghasilkan gas ini. Bahkan manusia juga menyuplai CO2 melalui proses pernapasan.
4. MEKANISME
Karbon dioksida yang memiliki rumus kimia CO2 dapat menjadi asam ketika bereaksi dengan air H2O sehingga disebut oksida asam. Reaksinya adalah sebagai berikut:
CO2(g) + H2O(l) --> H2CO3(aq)
H2CO3(aq) --> H+(aq) + HCO3-(aq)
H2CO3 atau biasa disebut asam karbonat merupakan suatu asam lemah dan sedikit terionisasi menghasilkan H+ (spesi yang mengindikasikan larutan bersifat asam menurut teori Asam Basa Arrhenius).
Proses asidifikasi samudera, secara sederhana adalah karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil yang terakumulasi dalam atmosfer, menyebabkan pemanasan global, berpengaruh terhadap samudera atau lautan kita. karbon dioksida diserap oleh laut dan bereaksi dengan air laut membentuk asam karbonat H2CO3 dan meningkatkan keasamam (H+) air laut.
H+(aq) + CO32-(aq) --> HCO3-(aq) ion bikarbonat
Sebaliknya, air laut menjadi kekurangan persediaan karbonat (CO32-) akibat pembentukan ion bikarbonat, yang dikenal sebagai zat yang digunakan oleh puluhan ribu spesies hewan laut untuk membentuk cangkang dan tulang (kerangka) serta karang. Jika keasaman lautan cukup tinggi, air laut menjadi korosif dan melarutkan cangkang, melemahkan pertumbuhan hewan laut dan terumbu karang beserta jutaan spesies hewan laut yang bergantung kepadanya.
Reaksi pembentukan karang dan cangkang adalah sebagai berikut:
Ca2+ +CO32- --> CaCO3 Calsium karbonat
Jika suplay karbonat berkurang, karang harus mengeluarkan lebih banyak energy untuk mengumpulkan ion tersebut.
5. DAMPAK
Asidifikasi samudera, tidak dapat disangkal lagi, adalah bencana lingkungan yang secara diam-diam dapat menghancurkan ekosistem laut dan mengancam produktivitas perikanan. Berikut dampak yang dapat ditimbulkan akibat Asidifikasi samudra:
 Jika keasaman lautan cukup tinggi, air laut menjadi korosif dan melarutkan cangkang, melemahkan pertumbuhan hewan laut dan terumbu karang beserta jutaan spesies hewan laut yang bergantung kepadanya. Pada akhirnya bencana Asidifikasi samudra yang dahsyat ini akan memusnahkan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karang-karangan (Gattuso et al., 1998), alga coccolithophore (Riebesell et al., 2000) dan pteropods (Orr et al., 2005) akan mengalami pengurangan kalsifikasi atau peningkatan pemutusan (maksudnya dissolution) ketika terpapar oleh naiknya kadar CO2 (Wikipedia).
Pteropoda Limacina helicina yang memegang peranan penting dalam rantai makanan dan fungsi ekosistem Laut Artik, dan cangkangnya yang mengandung kalsium karbonat merupakan pelindung yang penting bagi hewan ini. Namun, studi yang dilakukan LOV (Laboratorium d’OcĂ©anographie at Villefranche) menunjukkan bahwa pertumbuhan cangkang hewan ini diprediksi akan melambat hingga 30% dan pada


karang yang hidup pada daerah dingin, Lophelia pertusa-pteropod lainnya- pertumbuhannya akan melambat hingga 50%. Terumbu karang tropis dibangun oleh sejumlah besar spesies sedangkan pada daerah dingin dibangun oleh satu atau dua spesies namun menyediakan banyak tempat bagi banyak spesies lain. Penurunan pertumbuhan karang akibat pengasaman karang ini akan mengancam struktur biologis tersebut (Go Blue Indonesia).
 Tingkat keasaman yang tinggi juga menggangu pendengaran beberapa spesies laut sehingga sulit baginya untuk mendapatkan makanan maupun menghindari predator.
 Asidifikasi samudra mengganggu efektifitas organism laut dalam bereproduksi.
 Pengasaman dapat mengganggu indra penciuman spesies laut salah satunya ikan giru berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Australia
 Asidifikasi samudra juga memberikan dampak komersial yaitu mengancam sumber makanan bagi ratusan juta orang dan industri perikanan, pariwisata serta penangkapan ikan yang telah menampung lebih dari 38 juta orang secara langsung dan sekitar 162 juta orang yang bergantung secara tidak langsung (blogodril.com)

6. MINIMALISASI
Pemangkasan emisi CO2 merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk memperlambat efek Asidifikasi samudra dengan mengurangi aktivitas yang bisa menghasilkan gas CO2. Tidak mungkin untuk menaikan derajat keasaman laut dengan cara menetralkannya seperti teori netralisasi asam basa. Karena butuh berton-ton basa yang harus dilarutkan untuk mencapai pH sedikit basa yang memungkinkan organisme untuk hidup lebih baik. Pada saat ini, karang dan hewan bercangkang (pteropoda) harus berhadapan dengan bahan bakar fosil merah; bukan suatu pertarungan yang seimbang.
DOWNLOAD VERSI PDF : KLIK DISINI

No comments:

Post a Comment